Rabu, 15 April 2020
RENUNGAN
Mazmur 103:17 (TB) Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,
Sejauh ini si pemazmur hanya melihat ke belakang pada pengalaman-pengalamannya sendiri, dan dari situ ia mendapatkan pokok pujian. Di sini ia melihat secara luas dan memperhatikan kebaikan Tuhan kepada orang lain juga. Sebab bersama dan untuk mereka kita harus bersukacita dan mengucap syukur, sebab semua orang kudus diberi makan dari meja yang sama dan turut berbagi dalam berkat-berkat yang sama.
I. Sesungguhnya Allah itu baik kepada semua (ay. 6): Dia menjalankan keadilan dan hukum, bukan hanya bagi umat-Nya sendiri, tetapi juga bagi segala orang yang diperas. Sebab bahkan dalam tindak pemeliharaan yang biasa Dia lakukan bagi semua orang, Ia menjadi pelindung bagi orang-orang tidak bersalah yang tertindas, dan, dengan satu atau lain cara, ia akan membela kepentingan orang-orang yang terluka melawan para penindas mereka. Adalah kehormatan-Nya untuk merendahkan orang-orang congkak dan membantu orang-orang yang tidak berdaya.
II. Dia baik secara istimewa kepada Israel, kepada setiap orang Israel sejati, yang berhati bersih dan lurus.
1. Dia telah menyatakan diri-Nya dan anugerah-Nya kepada kita (ay. 7): Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, dan melalui Musa perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel, bukan hanya melalui tongkatnya kepada orang-orang yang hidup pada masa itu, tetapi juga melalui penanya kepada masa-masa berikutnya. Perhatikanlah, pewahyuan ilahi merupakan salah satu dari kebaikan-kebaikan ilahi yang pertama dan terbesar yang dengannya jemaat diberkati. Sebab Allah memulihkan kita kembali kepada diri-Nya dengan menyatakan diri-Nya kepada kita, dan menganugerahkan kepada kita segala kebaikan dengan memberi kita pengetahuan. Ia telah memperkenalkan perbuatan-perbuatan-Nya dan jalan-jalan-Nya (yaitu, sifat-Nya dan cara-cara-Nya berurusan dengan anak-anak manusia), agar mereka tahu apa yang harus dipikirkan tentang-Nya dan apa yang harus diharapkan dari-Nya. Demikian menurut Dr. Hammond. Atau, melalui jalan-jalan-Nya kita dapat memahami hukum-hukum-Nya, yaitu jalan yang dikehendaki-Nya bagi kita untuk berjalan di dalamnya. Juga, melalui perbuatan-perbuatan-Nya, atau rancangan-rancangan-Nya (sesuai dengan arti kata itu), kita dapat memahami janji-janji dan tujuan-tujuan-Nya tentang apa yang akan diperbuat-Nya terhadap kita. Sedemikian baiknya Allah berhubungan dengan kita.
2. Tidak pernah Ia ganas dan kejam terhadap kita, tetapi selalu lembut, penuh belas kasihan, dan siap mengampuni.
(1) Memang sudah sifat-Nya demikian (ay. 8): TUHAN adalah penyayang dan pengasih. Ini merupakan jalan-Nya yang telah diperkenalkan-Nya kepada Musa di Gunung Horeb, ketika Ia menyatakan nama-Nya demikian (Kel. 34:6-7), saat menjawab pertanyaan Musa (Kel. 33:13), beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau. Adalah jalan-Ku, firman Allah, untuk mengampuni dosa.
[1] Ia tidak lekas marah (ay. 8). Ia panjang sabar, tidak lekas menunjuk pada kesalahan yang kita perbuat atau segera mengambil keuntungan melawan kita. Ia bersabar terhadap orang-orang yang amat membangkitkan amarah-Nya. Ia menunda-nunda untuk menghukum, agar dapat memberikan ruang untuk bertobat, dan tidak bersegera menjalankan putusan dari hukum-Nya. Begitulah, Ia tidak bisa panjang sabar seperti itu seandainya Ia tidak berlimpah kasih setia, seandainya Ia bukan Bapa yang penuh belas kasihan sepenuh-penuhnya.
[2] Ia tidak marah berlama-lama. Karena (ay. 9) tidak selalu Ia menuntut (kjv: tidak selalu Ia menegur – pen.), sekalipun kita selalu melanggar dan pantas ditegur. Meskipun Ia memperlihatkan murka-Nya melawan kita atas dosa-dosa kita melalui teguran-teguran Pemeliharaan ilahi dan peringatan-peringatan hati nurani kita sendiri, dan dengan demikian menyebabkan dukacita, namun Ia akan berbelas kasihan dan tidak akan selalu membiarkan kita dalam penderitaan dan kengerian. Tidak, tidak akan dilakukan-Nya hal itu karena dosa-dosa kita. Sebaliknya, setelah kita hidup dalam roh perbudakan, Ia menganugerahkan kepada kita roh yang akan mengangkat kita menjadi anak. Betapa berbedanya di hadapan Allah dengan orang-orang yang selalu menegur, yang selalu mencari-cari kesempatan untuk menegur, dan tidak tahu kapan harus berhenti! Apa jadinya kita jika Allah berbuat demikian terhadap kita? Tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam melawan umat-Nya sendiri, tetapi akan mengumpulkan mereka dengan kasih setia abadi (Yes. 54:8; 57:16).
(2) Kita telah mendapati-Nya demikian. Kita, pada pihak kita, harus mengakui bahwa tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita (ay. 10). Kitab Suci sangat banyak berbicara tentang kasih setia Allah, dan kita semua dapat mengamini bahwa itu benar, bahwa kita telah mengalaminya. Andaikata Ia bukan Allah yang penyabar, kita pasti sudah lama berada di neraka. Tetapi tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. Begitulah yang akan dikatakan orang jika mereka tahu ganjaran apa yang pantas bagi dosa. Ia tidak menimpakan penghakiman-penghakiman yang pantas kita dapatkan, atau menjauhkan dari kita penghiburan-penghiburan yang telah kita biarkan hilang sendiri, yang seharusnya membuat kita memandang dosa dengan lebih buruk, bukan dengan lebih baik. Sebab, kemurahan Allah haruslah menuntun kita kepada pertobatan (Rm. 2:4).
3. Ia telah mengampuni dosa-dosa kita, bukan hanya kesalahanku (ay. 3), melainkan juga pelanggaran kita (ay. 12). Meskipun untuk keuntungan kita sendirilah, melalui kasih setia Allah yang mengampuni, bahwa kita harus menerima penghiburan dari pengampunan itu, namun jika dengan pengampunan itu orang lain juga mendapat keuntungan, maka kita harus memberi-Nya kemuliaan untuk itu.
Amatilah:
(1) Kekayaan kasih setia Allah yang melampaui segalanya (ay. 11): setinggi langit di atas bumi (begitu tinggi sehingga bumi hanyalah sekadar titik di tengah luasnya alam semesta), demikianlah kasih setia Allah mengatasi jasa-jasa baik dari orang-orang yang paling takut akan Dia, begitu mengatasi dan melampaui jasa-jasa mereka sehingga kasih setia Allah dan jasa-jasa mereka itu tidak bisa diperbandingkan. Sehebat apa pun manusia telah menunaikan kewajibannya, ia tidak dapat menuntut pertanda-pertanda terkecil sekalipun dari kebaikan Allah sebagai utang. Oleh sebab itu, semua keturunan Yakub akan bergabung bersamanya dalam mengakui diri mereka sebagai orang yang tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan Allah(Kej. 32:10). Amatilah, kasih setia Allah sedemikian besarnya atas orang-orang yang takut akan Dia, bukan atas orang-orang yang menyepelekan Dia. Kita harus takut akan Tuhan dan kebaikan-Nya.
(2) Penuhnya pengampunan-pengampunan-Nya, sebuah bukti akan berlimpahnya kasih setia-Nya (ay. 12): sejauh timur dari barat (bentangan dua bagian dunia yang paling luas, karena keduanya diketahui dan dihuni, dan oleh sebab itu para ahli ilmu bumi mengukur garis bujur ke arah itu) demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita, sehingga pelanggaran itu tidak akan pernah ditimpakan ke atas kita, atau bangkit dalam penghakiman melawan kita. Dosa-dosa semua orang percaya tidak akan diingat lagi, tidak akan disebutkan kepada mereka. Orang akan mencarinya, namun tidak akan menemukannya. Jika kita mencampakkan dosa-dosa kita sepenuhnya, maka Allah akan mengampuninya seutuhnya.
4. Ia telah menunjukkan belas kasihan-Nya terhadap dukacita kita (ay. 13-14).
Amatilah:
(1) Siapa yang dikasihani-Nya, yaitu orang-orang yang takut akan Dia, yakni semua orang baik, yang di dunia ini mungkin pantas dikasihani karena kesedihan-kesedihan yang untuknya mereka bukan saja dilahirkan, tetapi juga dilahirkan kembali. Atau mungkin ini dapat dimengerti sebagai orang-orang yang belum menerima Roh yang menjadikan mereka anak Allah, tetapi gemetar mendengar firman-Nya. Orang-orang yang dikasihani-Nya (Yer. 31:18, 20).
(2) Bagaimana Ia sayang, yaitu seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, dan berbuat baik kepada mereka bilamana ada kesempatan. Allah adalah Bapa bagi orang-orang yang takut akan Dia dan mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya. Ia bersikap lemah lembut terhadap mereka seperti seorang bapa. Seorang bapa sayang kepada anak-anaknya yang lemah dalam pengetahuan dan mengajari mereka, sayang kepada mereka sewaktu mereka membangkang dan bersabar menghadapi mereka. Ia sayang kepada mereka ketika mereka sakit dan menghibur mereka (Yes. 66:13), sayang kepada mereka ketika mereka jatuh dan membantu mereka bangun kembali. Ia sayang kepada mereka apabila mereka melanggar, dan, pada saat mereka berbalik, Ia mengampuni mereka. Ia mengasihani mereka ketika mereka diperlakukan secara tidak adil dan memberi mereka ganti rugi. Demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.
(3) Mengapa Ia sayang, sebab Dia sendiri tahu apa kita. Sudah sewajarnya Dia tahu apa kita, sebab Dialah yang membentuk kita. Setelah diciptakan-Nya sendiri manusia dari debu, Dia ingat, bahwa kita ini debu, bukan hanya karena keadaan jasmani tetapi juga dalam memberi hukuman. Engkau debu. Ia mempertimbangkan kerapuhan tubuh kita dan kebodohan jiwa kita, betapa sedikit yang bisa kita lakukan, dan Ia mengharapkan menurut kemampuan kita juga. Ia mempertimbangkan betapa sedikit kita bisa bersabar, dan karena itu Ia menimpakan masalah kepada kita menurut kesanggupan kita itu, dan dalam kesemuanya itu tampaklah kelembutan belas kasihan-Nya.
5. Ia telah melanggengkan kasih setia kovenan-Nya, dan dengan demikian menyediakan kelegaan bagi kelemahan kita (ay. 15-18).
Lihatlah di sini:
(1) Betapa singkatnya hidup manusia itu dan betapa tidak pastinya kelangsungannya. Bahkan kehidupan orang-orang besar dan orang-orang baik pun demikian, dan baik kebesaran maupun kebaikan mereka tidak dapat mengubah apa yang ada pada diri mereka: adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, yang tumbuh dari tanah, hanya naik sedikit di atasnya, dan sebentar saja layu, lalu kembali lagi ke tanah (Yes. 40:6-7). Manusia, dalam keadaannya yang terbaik, tampak sedikit melebihi rumput. Ia tumbuh berbunga dan terlihat ceria. Namun dalam hal ini pun ia hanya seperti bunga di padang, yang meskipun sedikit berbeda dari rumput, namun akan layu bersamanya. Bunga di taman biasanya lebih beraneka ragam dan lebih berharga, dan, meskipun pasti layu, akan bertahan lebih lama karena terlindung oleh dinding taman dan dirawat oleh tukang kebun. Tetapi, bunga di padang (yang dengannya hidup manusia diperbandingkan di sini) tidak saja pasti layu, tetapi juga diterpa embusan-embusan angin dingin dan mudah digigit dan diinjak-injak oleh binatang-binatang di padang. Hidup manusia tidak hanya terus merosot dengan sendirinya, tetapi sewaktu-waktu dapat berakhir oleh karena beribu macam kecelakaan. Ketika bunga sedang mekar-mekarnya, embusan angin, yang tidak terlihat dan tidak diharapkan, melintasinya, maka tidak ada lagi ia. Angin itu membuat pucuknya tergantung, daun-daunnya berguguran, dan layu lalu jatuh ke tanah lagi, dan tempatnya, yang bangga akan dia, kini tidak mengenalnya lagi. Demikianlah manusia itu. Karena itu Allah mempertimbangkan hal ini, dan menyayanginya. Jadi, semoga manusia itu mempertimbangkannya sendiri dan menjadi rendah hati, mati terhadap dunia ini dan memikirkan dunia lain.
(2) Betapa lama dan kekalnya kasih setia Allah terhadap umat-Nya (ay. 17-18): kasih setia-Nya akan berlanjut lebih lama daripada hidup mereka, dan akan tetap ada meskipun mereka sudah tidak ada lagi.
Amatilah:
[1] Gambaran orang-orang yang mendapat kasih setia ini. Mereka adalah orang-orang yang takut akan Allah, yang benar-benar memegang dasar-dasar agama. Pertama, mereka hidup di dalam iman. Sebab mereka berpegang pada perjanjian-Nya. Setelah memegangnya, mereka terus berpegang padanya, berpegang teguh, dan tidak mau melepaskannya. Mereka memeliharanya sebagai harta karun, memeliharanya sebagai bagian mereka, dan tidak mau berpisah darinya demi apa pun, sebab perjanjian-Nya itu adalah hidup mereka. Kedua, mereka hidup dalam ketaatan. Mereka ingat untuk melakukan titah-Nya, sebab kalau tidak, mereka tidak berpegang pada perjanjian-Nya. Orang-orang yang akan mendapat keuntungan dari janji-janji Allah hanyalah mereka yang menjalankan perintah-perintah-Nya dengan kesadaran hati nurani. Lihatlah siapa yang mempunyai ingatan yang baik, dan juga yang berakal budi yang baik ( 111:10), yaitu orang-orang yang ingat akan titah Allah, bukan untuk membicarakannya, melainkan untuk melakukannya dan untuk diatur olehnya.
[2] Kelangsungan dari kasih setia yang diberikan kepada orang-orang itu. Kasih setia itu akan berlangsung lebih lama daripada hidup mereka di bumi, dan oleh sebab itu mereka tidak perlu khawatir meskipun hidup mereka singkat, karena kematian itu sendiri tidak akan memperpendek atau mengacaukan kebahagiaan mereka. Kasih setia Allah itu lebih baik daripada hidup, sebab kasih setia-Nya akan tetap hidup setelah kehidupan itu tidak ada. Pertama, bagi jiwa mereka, yang bersifat kekal. Bagi mereka kasih setia Tuhan itu dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Dari selama-lamanya dalam perancangannya, dan sampai selama-lamanya dalam dampak-dampaknya, dalam pemilihan mereka sebelum dunia dijadikan dan dalam pemuliaan mereka ketika dunia ini sudah tidak ada lagi. Sebab, mereka dari semula ditentukan untuk menerima bagian yang dijanjikan (Ef. 1:11) dan untuk mencari kasih setia Tuhan, Tuhan Yesus, sampai pada kehidupan kekal. Kedua, bagi keturunan mereka, yang akan terus dijaga sampai pada akhir zaman ( 102:29): Keadilan-Nya, kebenaran janji-Nya, akan ada bagi anak cucu. Asalkan mereka mengikuti jejak-jejak langkah kesalehan para pendahulu mereka, dan berpegang pada perjanjian-Nya, seperti yang mereka perbuat, maka kasih setia akan disediakan bagi mereka, bahkan bagi seribu angkatan.
Sumber : Tafsiran Alkitab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar